Setyorinihestiningtyas's Blog

Just another WordPress.com weblog

V-Class Pengujian Object Oriented

Dalam pengujian berorientasi objek, unit terkecil adalah objek dan class, sistem merupakan sekumpulan komunikasi-komunikasi antar objek. Class sering dirancang untuk menerima urutan pesan-pesan tertentu yang mengakibatkan respon class terhadap pesan-pesan tersebut menjadi berbeda-beda Hal ini selanjutnya disebut dengan perilaku (behavior) class. Perilaku tersebut dapat dikendalikan dengan nilai yang ter-enkapsulasi, urutan pesan atau keduanya.

Pengujian Perangkat Lunak Berorientasi Objek

Pengujian adalah suatu proses pengeksekusian program yang bertujuan untuk menemukan kesalahan (Berard, 1994). Pengujian sebaiknya menemukan kesalahan yang tidak disengaja dan pengujian dinyatakan sukses jika berhasil memperbaiki kesalahan tersebut. Selain itu, pengujian juga bertujuan untuk menunjukkan kesesuaian fungsi-fungsi perangkat lunak dengan spesifikasinya.

Pengujian dapat dikategorikan atas :

  1. Pengujian terhadap proses pengembangan sistem dan dokumendokumen pendukung. Proses berarti sejumlah aktivitas yang didukung oleh dokumen yang mendeskripsikan aktivitas-aktivitas.
  2. Pengujian terhadap analisis dan model perancangan. Dalam sistem berorientasi objek, pengujian model analisis dan perancangan adalah hal yang sangat penting.
  3. Pengujian secara statik dan dinamik untuk implementasi. Tujuannya adalah mencari kesalahan sedini mungkin dalam proses, tetapi kesalahan dalam kode untuk sistem yang besar dan kompleks tidak dapat dihindarkan. Pengujian statik merupakan inspeksi kode untuk menemukan kesalahan logic. Pengujian dinamik merupakan eksekusi dengan data uji untuk menemukan kesalahan dalam kode.

Perangkat lunak berorientasi objek berbeda dari perangkat lunak procedural (konvensional) dalam hal analisis, perancangan, struktur dan teknik-teknik pengembangannya. Bahasa pemrograman berorientasi objek mempunyai ciri-ciri adanya pembungkusan (encapsulation), keanekaragaman (polymorphism), dan pewarisan (inheritance) yang membutuhkan dukungan pengujian tertentu. Fokus pengujian perangkat lunak berorientasi objek dimulai pada hasil analisisnya, dilanjutkan pada hasil perancangannya, dan diakhir pada hasil pemrogramannya (Rochimah, 1997). Model yang dihasilkan pada analisis dan perancangan harus diperiksa terutama dalam hal :

  1. Semantic correctness, yaitu kesesuaian model dengan domain permasalahan di dunia nyata. Jika model merefleksikan dunia nyata secara akurat, berarti model tersebut benar secara semantik, dan
  2. Consistency, yaitu kesesuaian kelas dengan objek turunannya maupun kesesuaian asosiasi kelas dengan kelas lainnya.

Model Uji (Test Model)

Berbagai model pengujian perangkat lunak berorientasi objek diusulkan oleh para peneliti. Setiap model mempunyai konstruksi atau aturan yang menjadi dasar dalam langkah-langkah pengujian.

State-Transition Model

Transisi dalam pengujian method (operasi) suatu class menunjukkan konsep perilaku class. Setiap method dalam class mengekspresikan beberapa elemen dari keseluruhan perilaku class. Dalam beberapa metoda perancangan berorientasi objek menggunakan model State-Transition untuk merepresentasikan perilaku class. State (Status) suatu objek adalah kombinasi dari semua nilai atribut. Pada saat tertentu, status bersifat statik.

Untuk model dinamik objek, perlu ditambahkan transisi dari satu status ke status lainnya dan terjadilah suatu aksi. Model ‘transisi-status’ digambarkan dengan grafik, dimana simpul menyatakan status dan busur menyatakan transisi.

Boris Beizer memberikan beberapa aturan untuk pengecekan model “Transisi-status”, yaitu :

  1. Verifikasi bahwa status telah merepresentasikan himpunan satus dengan benar;
  2. Cel model untuk semua kemungkinan event suatu class, yaitu transisi dari setiap status untuk setiap method dalam class dan cek spesifikasi perancangannya;
  3. Cek terhadap ketetapan satu tansisi untuk setiap kombinasi “eventstate”. Lakukan pengecekan, misal dengan representasi matriks sebagai kombinasi kemungkinan status dan event;
  4. Cek status yang tidak terjangkau dan status mati, dimana pada status tersebut tidak ada lintasan atau transisi;
  5. Cek aksi yang tidak benar(invalid), termasuk method (operasi) yang tidak ada atau method yang tidak sesuai dengan kebutuhan selama transisi.

Model “transisi-status” dapat mencakup keseluruhan perilaku class, sehingga lebih produktif dibanding dengan model lainnya, namun mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

  1. Karena model dibentuk dari spesifikasi kebutuhan, bukan dari kode, mudah menyebabkan kesalahan sehingga perlu menguji model seperti halnya menguji kode;
  2. Karena model mencakup seluruh perilaku class dan superclass-nya, maka model menjadi kompleks. Namun pemakaian “transisi-status” secara hirarki dapat mengurangi kompleksitas tersebut
  3. Model perilaku dapat mengakibatkan hilangnya kendali dan data yang salah. Oleh karena itu perlu adanya asumsi yang sama tentang perilaku class yang didasarkan pada kebutuhan dengan asumsi yang dibuat oleh pemrogram.

Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD)

Object-Oriented Analysis

  • Object-oriented analysis adalah suatu metoda analisis yang memeriksa syarat-syarat dari sudut pandang kelas-kelas dan objek-objek yang ditemui pada ruang lingkup permasalahan.
  • Mendefinisikan kebutuhan-kebutuhan sistem melalui skenario atau penggunaan kasus-kasus.
  • Kemudian, membuat suatu model obyek dengan kemampuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan.
  • Output: Model kebutuhan-kebutuhan, biasanya menggunakan CRC Cards.
  • Memberikan gambaran rinci dari suatu sistem.
  • Mengidentifikasi “WHAT” kebutuhan fungsional (Use Cases)
  • Identifikasi: objects, classes, operations
  • Identifikasi: object relationships, object interations
  • Bangun model-model di dunia nyata menggunakan tampilan OO
  • Tujuan dari OOA adalah untuk memahami domain masalah dan meningkatkan ketelitian, konsistensi, kelengkapan

Object-Oriented Design

  • Object-oriented design adalah metoda untuk meng-arahkan arsitektur perangkat lunak yang didasarkan pada manipulasi objek-objek sistem atau subsistem.
  • Model kebutuhan-kebutuhan yang dibuat pada fase analisis diperkaya dalan fase perancangan.
  • Kadang-kadang ditambahkan lebih banyak lagi atribut dan pelayanan.
  • Ditambahkan antarmuka obyek-obyek.
  • Memberikan blueprint untuk implementasi
  • Menspesifikasi “HOW”
  • Menspesifikasi: class definitions, class categories
  • Menspesifikasi: subsystems, system architectures
  • OOA + Rincian Implementasi
  • Tujuan dari OO Design adalah mengoptimalkan maintainability, reusability, enhancebility dan reliability

Object-Oriented Testing

  • Proses ujicoba sistem yang berorientasi objek (object-oriented system) dimulai dengan meninjau ulang analisis dan model desain berorientasi obyeknya (object-oriented analysis and design models).Ketika sebuah program telah dituliskan, object-oriented testing (OOT) dimulai dengan menguji “in the small” dengan class testing (class operations dan collaborations). Ketika class-class tersebut diintegrasikan menjadi sebuah subsistem, maka masalah kolaborasi class akan diketahui. Terakhir, use-cases dari model OOA digunakan untuk menemukan kesalahan validasi software.
  • OOT hampir mirip dengan ujicoba software konvensional dalam hal kasus uji yang akan dibangun untuk melatih class-class yang ada dan kolaborasi antar class-nya juga prilakunya.
  • OOT berbeda dari ujicoba software konvensional dalam hal penekanan terhadap konsistensi dan kelengkapan penaksiran dari model OOA dan OOD yang telah dibangun.
  • OOT cenderung lebih fokus kepada masalah integrasi dari pada unit testing.

Object-Oriented Testing Activities

  • Meninjau ulang model OOA dan OOD
  • Ujicoba Class setelah penulisan program sumber
  • Ujicoba Integrasi dalam subsistems
  • Ujicoba Integrasi subsistem yang telah ditambahkan kedalam sistem
  • Ujicoba validasi berdasarkan OOA use-cases

Ujicoba Model OOA dan OOD

  • OOA dan OOD tidak dapat diujikan tetapi dapat ditinjau ulang untuk ketepatan dan konsistensinya
  • Ketepatan dari model OOA dan OOD
  • Consistency of OOA and OOD Models
  • Menilai model CRC (class- responsibility-collaborator) dan diagram hubungan antar obyek.
  • Meninjau desain sistem (memeriksa model perilaku objek untuk memeriksa pemetaan perilaku sistem ke subsystems, meninjau konkuresi dan alokasi tugas, menggunakan skenario use-case untuk memeriksa desain antarmuka pengguna)
  • Model Obyek test terhadap jaringan relasi objek untuk memastikan bahwa semua desain objek berisi atribut dan operasi yang diperlukan untuk melaksanakan kolaborasi yang ditetapkan untuk setiap kartu CRC.
  • Periksa rincian spesifikasi algoritma yang digunakan untuk melaksanakan operasi konvensional menggunakan teknik inspeksi

Strategi Ujicoba Berorientasi Objek (Object-Oriented Testing Strategies)

  • Unit testing dalam konteks OO
    • Unit terkecil yang diujikan adalah enkapsulasi class atau objek
    • Hampir serupa dengan ujicoba sistem pada software konvensional
    • Tidak menguji operasi dalam isolasinya dengan operasi yang lain
    • Dijalankan oleh operasi class dan perilaku tetap, bukan detail algoritmik dan aliran data yang melintasi antar interface modul
    • Ujicoba lengkap keseluruhan class meliputi :

– Menguji seluruh operasi yang berhubungan dengan objek

Mengatur dan interogasi semua atribut obyek

– Melatih objek dalam semua kemungkinan

  • Mendesain ujicoba untuk class dengan menggunakan metode yang benar

– Ujicoba berbasis kesalahan (fault-based testing)

– Ujicoba acak (random testing)

–  Ujicoba Partisi (partition testing)

  • Setiap metode-metode ini akan melatih operasi yang dienkapsulapsi oleh class
  • Urutan ujicoba didesain untuk memastikan bahwa operasi yang relevan telah diujicobakan
  • Posisi tetap suatu class (Nilai atributnya) di uji untuk menentukan apakah terdapat kesalahan

Integration testing dalam konteks OO

  • difokuskan pada kelompok-kelompok kelas yang berkolaborasi atau berkomunikasi dalam beberapa cara.
  • Integrasi operasi satu per satu ke dalam kelas sering sia-sia
  • Ujicoba berbasis thread (uji semua kelas yang dibutuhkan untuk merespon ke satu masukan atau event sistem)
  • Pengujian berbasis Kegunaan (dimulai dengan uji independen oleh kelas pertama dan kelaskelas yang tergantung yang menggunakannya)
  • Pengujian cluster (kerjasama kelompok kelas yang diuji untuk interaksi kesalahan)
  • Pengujian regresi adalah penting karena setiap thread, cluster, atau subsistem yang ditambahkan pada sistem
  • Tingkat integrasi yang lebih sedikit berbeda dalam sistem berorientasi objek

Validation testing dalam konteks OO

  • Berfokus pada tindakan pengguna yang terlihat dan pengguna dapat mengenali output dari sistem
  • tes validasi didasarkan pada skenario use-case, model perilaku objek, dan diagram alur event dibuat dalam model OOA
  • Pengujian Black box konvensional dapat digunakan untuk mendorong tes validasi

Test Case Design untuk software OO

 Setiap kasus uji harus dapat diidentifikassikan secara unik dan secara eksplisit dihubungkan dengan class yang akan diujikan

 Tetapkan kegunaan dari setiap ujicoba

 Tuliskan langkah-langkah ujicoba untuk setiap ujicoba yang disertakan, diantaranya:

  • Tuliskan tahapan ujicoba untuk setiap objek yang disertakan dalam ujicoba
  • Tuliskan pesan-pesan dan operasi yang dijalankan sebagai konsekuensi dari ujicoba ini
  • Tuliskan eksepsi yang muncul ketika suatu objek di ujicoba
  • Tuliskan kondisi eksternal yang memerlukan perubahan untuk ujicoba tersebut
  • Informasi tambahan lainnya yang diperlukan untuk memahami atau mengimplementasikan ujicoba tersebut.

 Ujicoba Struktur permukaan dan Struktur Dalam (Testing Surface Structure and Deep Structure)

  • Ujicoba struktur permukaan (Testing surface structure) yaitu melatih struktur yang tampak oleh pengguna akhir, sering kali melibatkan pengamatan dan mewawancarai pengguna karena mereka memanipulasi objek sistem
  • Ujicoba struktur dalam (Testing deep structure) yaitu melatih struktur program internal, seperti ketergantungan, perilaku, dan mekanisme komunikasi yang ada sebagai bagian dari sistem dan desain objek.

Metode Testing yang Dapat diaplikasikan pada Tingkatan Class (Testing Methods Applicable at The Class Level)

 Random testing – memerlukan sejumlah besar permutasi dan kombinasi data, dan dapat menjadi tidak efisien

o Identifikasikan operasi yang mungkin pada class

o Definisikan batasan penggunaannya

o Identifikasikan urutan ujicoba minimum

o Buatlah beberapa variasi urutan ujicoba random

 Partition testing – Menghilangkan sejumlah kasus uji yang dibutuhkan untuk menguji sebuah

class

  • state-based partitioning – ujicoba didesain dalam suatu cara sehingga operasi yang menyebabkan perubahan state diujikan secara terpisah dari yang tidak.
  • attribute-based partitioning – untuk setiap atribut class, operasi diklasifikasikan berdasarkan pengguna atribut tersebut, yang memodifikasi atribut dan yang tidak menggunakan atau memodifikasi atribut
  • category-based partitioning – operasi dikategorikan berdasarkan fungsi yang dilakukannya, seperti : inisialisasi, komputassi, query, terminasi

 Fault-based testing

  • Terbaik untuk operasi dan tingkatan class
  • Menggunakan struktur pewarisan
  • Pengujian memeriksa model OOA dan menghipotesis sekumpulan kerusakan yang dipahami yang mungkin terjadi dalam pemanggilan operasi dan sambungan pesan, dan membangun kasus uji yang sesuai
  • Menemukan spesifikasi yang tidak tepat dan kesalahan dalam interaksi subsistem

Inter-Class Test Case Design

  • Desain kasus uji menjadi lebih rumit seperti halnya integrasi dari dimulainya sistem OO – menguji kolaborasi antar class
  • Ujicoba class yang beragam, seperti :

–          Untuk setiap class client menggunakan daftar operator classs untuk men-generate urutan ujicoba random yang mengirimkan pesan ke server class yang lain

–           Untuk setiap pesan yang di-generate, tentukan class kolaborator dan operator server object yang ditunjuk

–          Untuk setiap operator server class (dimohon oleh pesan dari client object) tentukan pesan yang dikirimkan

–          Untuk setiap pesan, tentukan tingkatan operator berikutkan yang memohon dan menggabungkannya kedalam urutan ujicoba

  • Ujicoba yang dihasilkan dari model perilaku

–          gunakan state transition diagram (STD) sebagai model yang merepresentasikan perilaku dinamis dari suatu class.

–           Kasus uji harus mencakkup seluruh tahapan STD

–           breadth first traversal dari state model dapat digunakan (uji satu transisi dalam satu waktu dan hanya membuat kegunaan daari transisi yang diujikan sebelumnya ketika mengujikan transisi yang baru)

–           Kassus uji juga dapat dihasilkan untuk memastikan bahwa seluruh perilaku untuk class telah diujikan dengan benar

Testing Methods Applicable at Inter-Class Level

 Cluster Testing

  • Menitikberatkan pada pengintegrasian dan menguji kelompok objek yang bekerja sama
  • Mengidentifikasi kelompok dengan menggunakan pengetahuan tentang pengoperasian objek dan memiliki sistem yang diterapkan oleh kelompok ini.
  • Pendekatan Cluster Testing

–          Use-case atau ujicoba scenario

  • Ujicoba berdasarkan pada interaksi user dengan sistem
  • Mempunyai keuntungan bahwa fitur ujicoba sistem seperti yang dialami pengguna.

–          Thread testing – menguji respon sistem terhadap event sebagai pemrosesan thread melalui sistem

–          Object interaction testing – menguji urutan interaksi objek yang berhenti ketika operasi objek tidak memanggil layanan dari objek lainnya

 Use Case / Scenario-based Testing

  • Berdasarkan pada

–          use cases

–          corresponding sequence diagrams

  • Identifikassi skenario dari use-case dan menambahkan hal ini dengan diagram interaksi yang menampilkan objek-objek yang termasuk dalam scenario
  • Konsentrasi pada kebutuhan (fungsional) :

–          Setiap use case

–          Setiap perluasan kombinasi perpanjangan penuh(<<extend>>)

–          Setiap perluasan kombinasi penggunaan penuh(<<uses>>)

–          Ujicoba normal seperti perilaku

  • Sebuah skenario adalah sebuah alur/path melalui diagram urutan
  • Banyak skenario yang berbeda dapat dihubungkan dengan sebuah diagram urutan
  • Mengggunakan tugas pengguna yang dideskripsikan dalan use-cases dan membangun kasus uji dari tugas-tugas tersebut dan variasinya
  • Menemukan kesalahan yang muncul ketika pengguna berinteraksi dengan software OO
  • Konsentrasi pada apa yang dilakukan oleh fungsinya, bukan apa yang dilakukan oleh produknya
  • Dapat memperoleh nilai kembali yang lebih besar atas usaha dan waktu lebih yang dikeluarkan dalam meninjau ulang use-cases semenjak mereka dibuat, dari pada membuang waktu untuk uji coba use-case

OO Test Design Issues

 Metode White-box testing dapat diaplikasikan pada ujicoba kegunaan program untuk

mengimplementasi operasi class tetapi tidak untuk lainnya

 Metode Black-box testing method sangat tepat untuk ujicoba sistem OO

 Object-oriented programming menyebabkan kebutuhan tambahan untuk ujicoba, berupa :

  • class dapat mengandung operasi yang diturunkan dari super classes
  • subclass dapat mengandung operasi yang didefinisikan ulang daripada diturunkan
  • seluruh class dihasilkan dari ujicoba class dasar sebelumnya memerlukan ujicoba lanjutan

sumber tulisan ini :

http://ayuliana_st.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.1

Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 2 No. 2, Januari 2003 oleh Retno Hendrowati,dengan judul Pengujian Perangkat Lunak Berorientasi Obyek

Contoh Pelanggaran Etika dan Moral

Sudah pernah dengar tentang blog? Bahkan mungkin sudah tidak asing lagi dengan blog karena sehari-hari sudah menggunakan blog. Penyalahgunaan blog juga merupakan bentuk pelanggaran etika dan moral. Seperti pada berita berikut :

Banyak blogger yang ditangkap dikarenakan pembongkaran kasus seperti kasus HAM, mengkritik pemerintah.  Sejak tahun 2003 sebanyak 64 blogger telah ditangkap karena pandangan mereka, kata Universitas Washington dalam laporan tahunan. Pada tahun 2007 sebanyak 36 blogger juga ditangkap karena menulis tentang dunia politik pada tahun 2006.

Lebih dari setengah penangkapan terhadap blogger sejak tahun 2003 dilakukan oleh Negara China, Mesir, Iran. Warga Negara sudah ditangkap dan dipenjara karena blogging dengan topik berbeda, kata World Information Access (WIA).

Blogger yang ditangkap karena membongkar korupsi dalam pemerintahaan, penyalahgunaan HAM. Mereka mengkritik kebijaksanaan politik. Dilaporkan bahwa penangkapan cenderung ditingkatkan terutama pada waktu “ketidakpastian politis”, seperti pada waktu pemilihan umum dan protes besar-besaran.

Blogger yang ditangkap rata-rata dihukum dengan 15 bulan penjara, sedangkan hukuman terlamanya adalah 8 tahun yang ditemukan WIA. WIA mengakui bahwa jumlah blogger yang ditangkap bisa jauh lebih tinggi jumlahnya karena susah memverifikasi jika terjadi penangkapan terhadap blogger. Sebagai contoh panitia yang bertugas melindungi blogger telah memberikan informasi sekitar 344 orang ditangkap di Myanmar. Kebanyakan dari mereka diperkirakan adalah blogger, tetapi WIA tidak dapat memverifikasi semua laporan tersebut.

Tercatat lebih dari 30 negara memaksakan pembatasan teknologi pada orang-orang termasuk blogger. Di Negara China orang-orang dipersulit dalam pembuatan blog sebagai alat protes. Laporan menujukan bahwa tidak hanya pemerintah di timur tengah dan timur asia yang sudah bertindak berlawanan dengan pendapat online mereka.

Dalam empat tahun terakhir Britania, Prancis, Kanada dan Amerika terdapat penangkapan terhadap blogger. Laporan memperkirakan banyak blogger yang ditangkap pada tahun 2008 akan melebihi jumlah 36 pada tahun 2007.

Sumber berita tentang penangkapan blogger pada  tulisan ini : Andi Gunawan,FTI – Universitas Atma Jaya

http://www.beritanet.com/Technology/Berita-IT/Penangkapan-Blogger-Dunia-Meningkat.html

Pengertian dan Perkembangan Etika Menurut Para Ahli

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.

Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.

Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :

– Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.

– Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kitauntuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

Sumber tulisan ini :

http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com/2008/03/pengertian-etika.html

Etika Pemanfaatan Teknologi Informasi

Menjalani profesi dibidang IT, banyak orang yang melakukannya. Tapi bagaimana menjadi seorang profesional IT sendiri, masih banyak yang belum menjalaninya.

IT adalah ladang kerja yang saat ini mulai dilirik oleh pencari kerja. Maraknya lembaga pelatihan dan pendidikan formal maupun non-formal yang mendidik dan menghasilkan lulusan di bidang IT, adalah salah satu contoh makin digemarinya lahan kerja yang satu ini. Meski boleh dibilang tidak murah namun banyak lulusan SMU/sederajat yang akhirnya memilih pendidikan lanjutan di bidang IT. Berikut adalah dampak pemanfaatan teknologi informasi yang kurang tepat sebagai berikut (I Made Wiryana):

  • Rasa takut;
  • Keterasingan;
  • Golongan miskin informasi dan minoritas;
  • Pentingnya individu;
  • Tingkat kompleksitas serta kecepatan yang sudah tidak dapat ditangani;
  • Makin rentannya organisasi;
  • Dilanggarnya privasi;
  • Pengangguran dan pemindahan kerja;
  • Kurangnya tanggung jawab profesi;
  • Kaburnya citra manusia.

Adapun beberapa langkah untuk menghadapi dampak pemanfaatan Teknologi Informasi (menurut I Made Wiryana), yaitu :

a)      Desain yang berpusat pada manusia;

b)      Dukungan organisasi;

c)      Perencanaan pekerjaan;

d)      Pendidikan;

e)      Umpan balik dan imbalan;

f)       Meningkatkan kesadaran publik;

g)      Perangkat hukum;

h)      Riset yang maju.

Hak Sosial dan Komputer (Deborah Johnson) :

  1. Hak atas akses komputer, yaitu setiap orang berhak untuk mengoperasikan komputer dengan tidak harus memilikinya. Sebagai contoh belajar tentang komputer dengan memanfaatkan software yang ada;
  2. Hak atas keahlian komputer, pada awal komputer dibuat, terdapat kekawatiran yang luas terhadap masyarakat akan terjadinya pengangguran karena beberapa peran digantikan oleh komputer. Tetapi pada kenyataannya dengan keahlian di bidang komputer dapat membuka peluang pekerjaan yang lebih banyak;
  3. Hak atas spesialis komputer, pemakai komputer tidak semua menguasai akan ilmu yang terdapat pada komputer yang begitu banyak dan luas. Untuk bidang tertentu diperlukan spesialis bidang komputer, seperti kita membutuhkan dokter atau pengacara;
  4. Hak atas pengambilan keputusan komputer, meskipun masyarakat tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai bagaimana komputer diterapkan, namun masyarakat memiliki hak tersebut.

Hak atas Informasi (Richard O. Masson) :

  1. Hak atas privasi, sebuah informasi yang sifatnya pribadi baik secara individu maupu dalam suatu organisasi mendapatkan perlindungan atas hukum tentang kerahasiannya;
  2. Hak atas Akurasi. Komputer dipercaya dapat mencapai tingkat akurasi yang tidak bisa dicapai oleh sistem nonkomputer, potensi ini selalu ada meskipun tidak selalu tercapai;
  3. Hak atas kepemilikan. Ini berhubungan dengan hak milik intelektual, umumnya dalam bentuk program-program komputer yang dengan mudahnya dilakukan penggandaan atau disalin secara ilegal. Ini bisa dituntut di pengadilan;
  4. Hak atas akses. Informasi memiliki nilai, dimana setiap kali kita akan mengaksesnya harus melakukan account atau izin pada pihak yang memiliki informasi tersebut. Sebagai contoh kita dapat membaca data-data penelitian atau buku-buku online di Internet yang harus bayar untuk dapat mengaksesnya.

Kontrak Sosial Jasa Informasi
?    Komputer tidak akan digunakan dengan sengaja untuk menggangu privasi orang;
?    Setiap ukuran akan dibuat untuk memastikan akurasi pemroses data;
?    Hak milik intelektual akan dilindungi.

Sumber tulisan ini :

Etika Profesi Dibidang Teknologi Informasi

Secara umum pekerjaan dibidang teknologi informasi setidaknya terbagi dalam 4 kelompok :

  1. Kelompok Pertama, adalah mereka yang bergelut didunia perangkat lunak (Software), database maupun system aplikasi.
  2. Kelompok Kedua, adalah mereka yang bergelut dengan perangkat keras (Hardware)
  3. Kelompok Ketiga, adalah mereka yang berkecimpung dalam operasional system informasi.
  4. Kelompok Keempat, adalah mereka yang berkecimpung di pengembangan bisnis teknologi informasi.

Mengingat pentingnya teknologi informasi bagi pembangunan bangsa maka pemerintah pun merasa perlu membuat standarisasi pekerjaan dibidang teknologi informasi bagi pegawainya. Institusi pemerintah telah mulai melakukan klasifikasi pekerjaan dalam bidang teknologi sejak 1992, bagaimanapun juga klasifikasi pekerjaan ini mungkin masih belum dapat mengakomodasi klasifikasi pekerjaan pada teknologi informasi secara umum. Terlebih lagi, deskrepsi tentang pekerjaan setiap klasifikasi pekerjaan masih kurang jelas dalam membedakan setiap sel pekerjaan.

Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dibidang teknologi informasi, disebut juga sebagai pranata komputer. Pranata komputer adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, wewenang, tanggung jawab serta hak membuat, merawat, dan mengembangkan system, dan atau sebagai pengolahan data dengan komputer.

Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan pranata computer ditetapkan oleh Menteri, Jaksa Agung Pimpinan Lembaga Pemerintahan Nondepartemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pranata computer harus memnuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  • Bekerja pada satuan organisasi instansi pemerintah dan bertugas pokok membuat, memelihara dan mengembangkan system dan atau program pengolahan data dengan computer.
  • Berijasah serendah-rendahnya Sarjana Muda (S1) atau Diploma Tiga (D3).
  • Memiliki pendidikan atau mempunyai pengalaman melakukan kegiatan dibidang computer.
  • Memilioki pengetahuan atau pengalaman dalam bidang tertentu yang berhubungan dengan bidang computer.
  • Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik.

Sesuai tugas, tanggung jawab serta nilai-nilai profesionalisme yang harus dimiliki terdapat jenjang dan pangkat pranata computer. Untuk tetap berada pada jalur profesionalitas, pemerintah juga menetapkan bahwa pranata computer harus dapat mengumpulkan angka kredit minimal. Pembebasan dari jabatan pranata computer ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan pejabat pranata computer atau pejabat lain yang ditunjuknya.

Pejabat pranata computer diberhentikan dari jabatannya, apabila pejabat pranata computer yang telah dibebaskan sementara dari jabatannya sebagaimana dimaksudkan dalam angka IX angka 2 huruf a. surat edaran bersama ini tidak dapat mengumpulkan angka kredit yang diprsyaratkan dalam waktu 3 tahun setelah pembebasan sementara.
Selain itu, pejabat pranata computer juga dapat diberhentikan dari jabatannya, apabila pejabat tersebut dijatuhi hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil berdasarkan peraturan pemerintah No.30 Tahun 1980 dengan tingkat hukumandisiplin berat yang telah mempunyai kekuatan hokum yang tetap.

Profesionalisme harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Dalam proses ini pendidikan prajabatan termasuk dalam penataran, pembinaan dari organisasi profesi dan tempat kerja, penghargaan masyarakat terhadap profesi, penegakan kode etik profesi, sertifikasi, peningkatan kualitas pekerja, imbalan, dan sebagainya, secara bersama-sama menentukan pengembangan profesionalisme pekerja di bidang teknologi informasi.
Bidang teknologi informasi tergolong bidang baru dibandingkan dengan bidang-bidang pekerjaan lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelangkaan sumber daya manusia dan tenaga kerja dibidang ini. Untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja tersebut perlu dilakukan langkah-langkah terpadu untuk mempersiapkan sumber daya manusia dibidang tersebut sejak dini. Apalagi Indonesia yang dikenal sebagai pengirim tenaga kerja ke luar negeri, memiliki potensi untuk mengirimkan tenaga kerja terlatih.

Beberapa hal yang dilakukan di Indonesia antara lain adalah membuka berbagai program pendidikan di bidang teknologi informasi, selain tingkat pendidikan formal, diperlukan juga kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal seperti missal kursus-kursus bidang TI, sampai pada sertifikasi. Tetapi, pendidikan dalam bentuk training umumnya biayanya cukup mahal. Oleh karena itu dikembangkan paket-paket pelatihan yang terjangkau. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat diperlukan dalam rangka membantu proses pendidikan tersebut dari sisi pengurangan biaya pendidikan maupun penambahan fasilitas yang lebih memadai.

Sertifikasi merupakan salah satu cara untuk melakukan standarisasi sebuah profesi. Atau paling tidak, sertifikasi merupakan lambang dari sebuah profesionalisme.
Standarisasi dan sertifikasi dapatdilakukan oleh badan-badan resmi yang ditunjuk pemerintah atau dilakukan juga oleh industri secara langsung atau yang disebut vendor certification, memang industrilah yang lebih mengetahui kebutuhan tenaga kerja atau sumber daya manusia yang sesuai untuk mereka.

Tujuan umum sebuah profesi adalah memnuhi tanggung jawabnya dengan standar profesionalisme tinggi sesuai bidangnya, mencapai tingkat kinerja yang tinggi, dengan orientasi kepada kepentingan public. Untuk mencapai tujuan tersebut kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebuah profesi yaitu Kredibilitas, Profesionalisme, Kualitas jasa, dan Kepercayaan.

Di Indonesia sudah berdiri sebuah orgsanisasi profesi dibidang computer sejak tahun 1974 yang bernama IPKIN. Pada awal berdirinya IPKIN memang bukan merupakan organisasi profesi. IPKIN saat itu merupakan singkatan dari Ikatan Pengguna Komputer Indonesia, yang beranggotakan para praktisi pengguna computer di Indonesia. Namun seiring perkembangannya, IPKIN berganti nama menjadi Ikatan Profesi Komputer dan Informatika Indonesia (Indonesian Computer Sosiety – ICS).

Sumber tulisan ini :

Macam- Macam Etika

Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai­-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:

Etika Deskriptif

Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertin­dak secara etis.

Etika Normatif

Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang da­pat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan meng­hindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut:

  • Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
  • Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehi­dupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
  • Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

Sumber tulisan ini :

http://asyilla.wordpress.com/2007/06/30/pengertian-etika/

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

Pengertian Etika dan Etika Profesi

Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin [1993], etika didefinisikan sebagai “the discipline which can act as the performance index or reference for our control system”. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial(profesi) itu sendiri.

Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999).
Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

Etika dan Estetika

Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.

Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama  dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang- undangan, norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun  berasal dari  kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.

Etika dan Etiket

Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu:

  • Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket.
  • Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan.

Perbedaan antara etika dengan etiket

  1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu.Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
  2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan.Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
  3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
  4. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

Sumber tulisan ini :